Sleman Sembada – Gemah Ripah Loh Jinawi – Masyarakat Makmur Maju
Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah memerlukan satu filosofi pembangunan yang memiliki cakrawala yang luas dan mampu menjadi pedoman bagi daerah untuk menentukan visi, misi, dan arah pembangunan.
Filosofi pembangunan daerah Sleman digali dari filosofi luhur nenek moyang bangsa Indonesia, yaitu: ”Gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem karta raharja” dengan pengertian sebagai berikut:
Gemah ripah : perwujudan keadaan masyarakat yang tercukupi kebutuhan lahir dan batin.
Loh jinawi : perwujudan keadaan lahan (tanah) berserta tanam-tanaman yang ada di atasnya sangat
subur.
Tata titi tentrem: suatu kondisi masyarakat yang taat pada aturan, disiplin, demokratis, bijak dalam bertindak, aman, tentram, dan damai.
Karta raharja : tercapainya tingkat kemakmuran/kesejahteraan di masyarakat yang berpedoman pada keselamatan lahir dan batin.
Rangkuman : perwujudan suatu kondisi masyarakat yang memiliki kemakmuran, kesejahteraan dengan penuh rasa kedamaian, keamanan, dan keteraturan.
“Apa Kata Dunia?”
Masalah perpajakan sudah lama diterapkan di Indonesia. Namun beberapa tahun terakhir ini, semakin diseriusi dalam penarikan pajak. Bahkan yang dikenai wajib pajak bukan lagi hanya dunia usaha, tetapi sudah mengaerah kepada semua orang yang berpenghasilan dari kantor juga dikenai pajak sampai pada para pensiunan pun juga dikenai pajak.
Apa tidak hebat kesungguhan direktorat pajak dalam mengumpulkan pajak dari masyarakat dan sumber. Sampai..sampai membuat slogan hari gini tidak bayar pajak APA KATA DUNIA?
IRONISNYA..
Semua usaha Ditjen Pajak tidak bisa menunjukkan kalau semua upaya itu bersih dari praktik yang merusak citra Dirjen Pajak dan tentunya kepercayaan Masyarakat wajib pajak.
Wah.. kasus Gayus.. sungguh menohok Ditjen Pajak…
Kalau baru 10 tahun setelah lulus terus jadi pegawai Pajak bisa dapat 25 Milyar? Apa kata Dunia ????
